10 April 2012

Pembalasan yang Adil

follow article
 

Dua minggu yang lalu bertemu dengan teman-teman semasa SMP, SMP N 2 Maos, membicarakan kilasan-kilasan peristiwa yang teringat-ingat lupa. Tentu saja tidak runtut, apalagi masa sudah lewat 18-21 tahun yang lalu. Tapi ada satu peristiwa yang saya coba ingat kembali, dan membagikan-nya kepada Anda.

Ini terjadi saat saya kelas 2 SMP. Beragam kebiasaan yang saya lakukan untuk berangkat sekolah dari Kesugihan ke Maos. Jika ada uang, saya biasa berebut naik bis, bergelantungan di pintu yang sesak. Tapi jika sedang habis uang, saya biasa nebeng naik kereta wijaya pagi-pagi sekali, atau jalan kaki menyusuri rel kereta menikmati ketegangan yang muncul saat melintas jembatan rel kereta di Sungai Serayu, atau sekedar berjalan kaki menyusuri jalan raya sambil berharap ada kawan naik sepeda menawarkan tumpangan.

Tapi sebulan yang lalu, saya dibelikan sebuah sepeda federal. Lumayan keren, hari-hari berangkat sekolah menjadi hari-hari menyenangkan untuk bersepeda. Semuanya berjalan lancar, sampai suatu pagi, di tempat parkiran sepeda, ada pengumuman yang (saat itu) sangat konyol, "Sepeda wajib dikenakan slebor". Sialnya, sepeda saya tidak ada slebornya. Aturan dari mana ini? Kenapa muncul tiba-tiba? Ah paling cuma himbauan. Dan seperti biasa, aturan wajib slebor saya abaikan begitu saja.

Ternyata aturan yang diumumkan itu disertai dengan sanksi [yang kelewatan]. Saat pulang sekolah, saya dapati sepeda saya telah kempes, dan banyak sepeda lain yang tidak pakai slebor juga kempes. Sementara, kakak-kakak kelas yang duduk di kelas 3 tampak bergerombol sambil tertawa seru. Reflek, saya segera mendatangi mereka dan bertanya lantang, "Siapa yang menggembosi sepeda saya?"

Tidak ada yang menjawab, "Siapa?", kembali saya bertanya.

"Memang peraturannya harus pakai slebor," kata seseorang.

"Yang saya tanyakan siapa yang kempesin sepeda saya," masih saya bertanya.

"Pak N yang nyuruh kempesin," jawab seseorang lagi.

Saya beranjak menuntun sepeda kempes dengan perasaan kesal, apalagi jarak menuju pompa sepeda cukup jauh. Malamnya, saat hendak tidur, saya masih diliputi perasaan kesal dan kesal. Untungnya saya tidak bermimpi buruk, karena tepat sebelum tidur, saya menemukan sebuah cara pembalasan yang adil.

Besok pagi saya berangkat naik sepeda seperti biasa, dan di tempat parkir masih terpampang pengumuman wajib slebor. Tapi perasaan saya sangat tenang. Saat istirahat kedua, saya menyempatkan diri untuk memeriksa kondisi terakhir sepeda saya. Seperti yang sudah saya duga sebelumnya, saya dapati sepeda saya sudah kempes. Dengan perasaan tenang, saya segera menuju ke tempat parkir guru. Satu persatu saya amati deretan motor di sana, ketika menemukan sepeda motor butut merk Honda, berwarna merah, keluaran tahun 70-an, perasaan saya secara kuat mengatakan inilah sepeda motor pak N. Segera saya ambil pentilnya, dan pussssssssssss, sepeda motor butut merah itu pun langsung kempes.

Pulang sekolah saya melupakan sepeda kempes saya, dan memilih duduk-duduk di depan sekolah, bersiap menikmati pemandangan yang pasti menyenangkan. Akhirnya tiba pula yang ditunggu, dari jauh tampak ada seorang guru yang menuntun sepeda motor kempes. Perasaan saya mulai terasa tidak enak, saya berlari mendekat, dan upssss, ternyata yang menuntun sepeda motor itu adalah Pak K. Wew, salah sasaran nich.

Saya segera menyapa Pak K, dan menawarkan bantuan, alhasil, saya tuntun sepeda itu cukup jauh menuju bengkel. Sesampai di bengkel, Pak K memuji saya sebagai murid yang baik, tapi roman muka saya malah berubah kecut. Saya pamit kembali ke sekolah, dan sekali lagi menuntun sepeda saya yang kempes menuju bengkel. hehehe, pembalasan yang benar-benar adil :p

Tapi saya tidak jera, yang diperlukan hanyalah lebih banyak melakukan riset dan pengamatan sebelum bertindak. Keesokan harinya, saya berangkat pagi-pagi sekali, di tempat parkir sekolah, suasana sangat sepi dan pengumunan wajib slebor masih terpasang. Setelah sepeda saya parkir, tanpa menaruh tas, saya berlari ke gerbang sekolah dan duduk mengamat-amati di sana. Siswa mulai ramai berdatangan masuk sekolah, dan akhirnya saya melihat Pak N masuk sekolah sambil mengendarai sepeda onta. Yah, kali ini tidak akan salah sasaran, jika sepeda saya kempes, saya pastikan sepeda onta itu pun harus kempes.

Saya tak sabar menunggu istirahat kedua tiba, begitu bel berbunyi tanda istirahat, langsung saya melesat ke tempat parkiran. Hah, ternyata sepeda saya tidak kempes, saya mendongak ke tempat pengumuman wajib slebor, pengumuman itupun sudah tak terpasang. Masih termangu saya kembali ke kelas. Masih tak percaya sepeda saya tidak kempes. Ah biar nanti sepulang sekolah saya pastikan lagi.

Saat pulang, saya tak sabar menuju tempat parkir, pengumuman wajib slebor tetap raib tak terpasang, dan saya dapati, sepeda federal saya benar-benar tidak kempes.

follow article


Ada 4 komentar untuk artikel ini

...hmm, kisah yang hampir terlewatkan bro...hehehehe
 
Parman
from (Unknown Country?)
on Mozilla/5.0 (Windows NT 5.1) AppleWebKit/535.19 (KHTML, like Gecko) Chrome/18.0.1025.151 Safari/535.19
hehehe iya bro, banyak cerita seru [nakal] masa smp. yang klo diingat-ingat lagi jadi lucu :p
 
Rijal Asep Nugroho
from (Unknown Country?)
on Mozilla/5.0 (X11; Ubuntu; Linux i686; rv:11.0) Gecko/20100101 Firefox/11.0
Adilnya dimana ya hehehe.... Kan yang motornya kempes bukan yang bikin peraturan. Jadi harusnya judulnya Pembalasan yang Tidak Berbalas atau apalah hihihihi
 
Miranda
from (Unknown Country?)
on Mozilla/4.0 (compatible; MSIE 8.0; Windows NT 6.0; Trident/4.0; SLCC1; .NET CLR 2.0.50727; .NET CLR 3.0.04506; InfoPath.2; .NET
Itu judulnya diambil dari rencana pembalasan, maunya ada pembalasan yang adil (walaupun ternyata hasilnya salah sasaran).

Pada paragraf selanjutnya digunakan sebagai ironi, maunya ada pembalasan yang adil, tapi hasil yang di dapat malah dalam 1 hari nuntun sepeda kempes 2 kali, sekali sepeda motor milik pak guru, sekali sepeda sendiri.

Tapi keren juga kalo judulnya "Pembalasan tak Berbalas". hehehehe
 
Rijal Asep Nugroho
from INDONESIA
on Mozilla/5.0 (X11; Ubuntu; Linux i686; rv:11.0) Gecko/20100101 Firefox/11.0
 

Leave Comment

<i>, <u>, <b> and <a>

Captcha


Reload image